Welcome To My Blog !

Kamis, 28 Februari 2019

Bersegera Mempersiapkan Kehidupan Yang Lebih Baik di Akhirat

Kehidupan di alam akhirat bersifat abadi, kebahagiaan yang dirasakan penghuni SURGA tidak akan pernah berakhir.
DUNIA adalah tempat manusia hidup sekarang. Di alam ini manusia dilahirkan, dibesarkan, dan mengisi hidupnya dengan beragam aktivitas. Di alam ini juga akan diwafatkan. Dunia bersifat fana, tidak abadi. Pada saat yang telah ditentukan itu tiba, ia akan hancur berkeping-keping. Musnah, tidak berbekas. Inilah yang di sebut dengan hari kiamat.
Sedangkan yang disebut akhirat adalah tempat kembali manusia setelah kematian menjemputnya. Di alam ini manusia akan dihidupkan kembali untuk menerima balasan atas perbuatan selama di dunia. Bahagia atau sengsara tergantung pada perbuatannya sebelum mati. Karena itu, Rasulullah Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam pernah bersabda, “Al-dunya mazra’atu-l-akhirah (dunia merupakan tempat menanam, yang hasilnya akan dipetik di akhirat kelak).”
Bagi manusia yang beriman dan beramal saleh akan ditempatkan di dalam surga yang penuh kenikmatan. Sebaliknya, manusia yang tidak percaya kepada Allah, akan menghuni neraka yang penuh dengan siksa. Bahagia dan sengsara pada saat itu merupakan pilihan manusia seutuhnya saat berada di alam dunia.
Kehidupan di alam akhirat ini bersifat abadi, kebahagiaan yang dirasakan penghuni surga tidak akan pernah berakhir. Mereka selamanya dalam rida Tuhan. Juga kesengsaraan yang dialami para pengikut iblis dan setan, ingkar kepada Allah, takkan pernah berujung.
Sang pencipta, Allah Subhanahu Wa Ta’ala menjelaskan tentang hakikat dunia ini melalui Jibril kepada Muhammad :


Katakanlah: "Kesenangan di dunia ini hanya sebentar dan akhirat itu lebih baik untuk orang-orang yang bertakwa, dan kamu tidak akan dianiaya sedikitpun[318]. (QS. An-nisa: 77).
Katakanlah, kesengsaraan dunia ini hanya sedikit, sedangkan akhirat lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa, dan kamu sekalian, baik yang bertakwa maupun yang tidak bertakwa, tidak akan dianiaya sedikit pun.” Orientasi hidup seorang muslim seyogyanya diarahkan untuk kehidupan akhirat. Sebagai implementasi konsep ini, sesibuk apa pun kegiatannya ia akan menyempatkan dirinya untuk beribadah kepada Allah. Di atas level ini, seorang muslim akan menjauhkan diri dari suatu pekerjaan atau jabatan tertentu yang akan memungkinkannya lupa kepada Tuhan dan melanggar larangan-larangannya
Dan tidaklah kehidupan di dunia ini melainkan senda gurau dan permainan, sesungguhnya akhirat itulah kehidupan yang sempurna jika mereka mengetahui.” (QS: Al-Ankabut : 64).
Hiburan dan permainan tak punya pengertian yang abadi, kecuali sebagai persiapan kita untuk bekerja dengan sungguh-sungguh di dunia ini. Tidak lain hidup ini adalah masa persiapan untuk hidup yang sesungguhnya, yakni pada Hari Akhirat. Segala kehampaan dunia ini hendaknya digunakan untuk apa yang kiranya akan memberikan manfaat, tapi jangan sampai membelokkan pikiran kita dari segala yang kita perlukan untuk kehidupan kita yang benar-benar penting.
Sesungguhnya kamu akan mendapatkan manusia yang paling berambisi terhadap kehidupan di dunia. Bahkan yang berambisi lagi adalah orang-orang musyrik. Masing-masing mereka mendambakan agar diberi umur seribu tahun. Padahal umur panjang itu tidak akan dapat menjauhkan dari azab. Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan.” (QS. Al-Baqarah : 96).
Seperti Minuman Anggur
Dunia mempunyai daya pikat yang luar biasa besarnya. Keindahan dan kemegahan isi dunia seperti minuman anggur yang memabukkan. Siapa saja yang meminumnya akan terbuai dan akhirnya lupa akan nasibnya di kehidupan yang abadi.
Manusia yang selalu tenggelam dalam kesenangan duniawi akan merasa hidup ini hanya sekejap waktu. Karena kondisinya umpama orang mabuk, tiada dirasakannya usia telah menjelang senja. Akibatnya, ia pun merasa kecewa, belum merasa puas terhadap apa yang telah dinikmatinya. Kehidupannya masih menggebu, sementara kondisi fisik sudah tidak kuat lagi. Pada saat inilah mereka tertimpa putus asa dan gelisah hati. Hatinya belum rela dan belum siap meninggalkan segala kenikmatan dan kemegahan yang dialaminya saat masa muda dulu.
Mereka pun berharap usianya terus bertambah. Bukan untuk tujuan bertobat, melainkan agar tetap bisa mencicipi hasil jerih payahnya di tempat-tempat hiburan yang terlarang.
Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak, dan sawah ladang, itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allahlah tempat kembali yang baik (Surga).” (QS. Ali Imran: 14).
Setiap manusia akan merasa senang jika di sampingnya ada perempuan yang disayanginya, anak-anak, dan kekayaan hasil usahanya. Perasaan semacam ini kemudian melahirkan rasa memiliki. Jika mereka meninggalkannya, sedih perasaan hatinya. Padahal istri, anak, dan harta merupakan titipan (amanat), kita harus menjaga dan memperlakukan mereka sesuai dengan ajarannya.
Ali bin Abi Thalib berkata, “Dunia berjalan ke belakang, dan akhirat berjalan ke depan. Keduanya memiliki pengikut. Jadilah pengikut akhirat dan jangan menjadi pengikut dunia. Sebab, hari ini adalah amal dan bukan hisab, sedangkan besok adalah hisab dan tidak ada amal.”
Manusia jangan terpancing, terlena, dan tertipu oleh dunia, sehingga melupakan kehidupan akhirat. Banyak di antara manusia yang percaya kepada akhirat, tetapi amat sedikit yang beramal dengan amalan akhirat. Di antara amal akhirat ini adalah shalat, puasa, haji, zakat, infak, sedekah, menjadi orang tua angkat, menjadi orang tua asuh, dan menberikan bea-siswa.
Jika kebutuhan terhadap dunia terus kita turuti, maka tidak akan pernah selesai. Manusia yang rakus tidak akan pernah merasa cukup terhadap apa yang sudah dimilikinya. Tanda kerakusannya itu adalah dengan menumpuk harta sebanyak-banyaknya, tetapi enggan mengeluarkan zakat dan sedekah kepada sesama. Padahal satu hal yang pasti bahwa semua harta itu akan ditinggalkannya. Saat menjadi mayat, tubuhnya hanya dibalut kain kafan putih. Selanjutnya yang akan menemani kita di alam kubur dan alam akhirat adalah amal kita.
Selagi Allah SWT masih memberikan kesempatan kepada kita untuk hidup, gunakanlah untuk melakukan kebaikan sebagai persiapan kita menghadapnya. Bukankah kehidupan akhirat itu lebih baik dibandingkan dengan kehidupan duni.
Semoga Bermanfaat !
Aamiin!


"DOSA YANG MERUSAK PERNIKAHAN"


Ingat :
Rumah Tangga Bahagia Bukan Diliahat Dari Seberapa Besar Gaji Suami, Tapi Seberapa Besar Tanggung Jawab Suami
SUAMI :
1. Suami tidak berfungsi menjadi pemimpin dengan baik, akibatnya saling melukai.
2. Suami gagal menjadikan Istri prioritas dalam hidupnya.
3. Suami membandingkan Istri dengan wanita lain.
4. Suami kurang disiplin mengontrol emosi dan kebiasaan buruk.
5. Suami gagal memuji hal-hal kecil dari Istri.
6. Suami menolak pendapat Istri.
7. Suami tidak pernah minta maaf.
Kebutuhan seorang Suami :
1. Istri sebagai sahabat.
2. Rumah yang rapi.
3. Istri yang menarik.
4. Saling menghargai.
Kebutuhan seorang Istri :
1. Kasih sayang dan penghargaan.
2. Diajak bicara.
3. Jujur dan terbuka.
4. Keuangan yang cukup.
5. Komitmen terhadap keluarga.
Ingat :
Ø   Kepala keluarga yang berhasil dalam keluarga maka keberhasilan yang lain akan mengikuti.
Ø  Kepala keluarga yang gagal dalam keluarga maka kegagalan lain akan mengikuti.
Ø  Kebahagiaan perkawinan membutuhkan  perjuangan yang tidak kenal lelah, dan membutuhkan kehadiran dan pertolongan Allah SWT.
Ø  Berbahagialah mereka yang benar-benar menikmati hidup rumah tangga yang rukun dan damai, meskipun itu harus diperoleh dengan cucuran air mata.
Ø  Belaian tangan suami adalah emas bagi istri.
Ø  Senyum manis sang istri adalah permata bagi suami.
Ø  Kesetiaan suami adalah mahkota bagi istri.
Ø  Keceriaan istri adalah sabuk di pinggang suami.
Maka perbaikilah apa yang bisa diperbaiki sekarang sebelum terlambat. Cintailah pasangan yang telah Allah SWT pilih untukmu!
Semoga Allah SWT memberkahi Pernikahan Anda!
Aamiin !
Semoga Bermanfaat ..!

Selasa, 16 Mei 2017

6 Tipe Wanita yang Tidak Boleh Dinikahi Meski Cantik dan Kaya



Seorang laki-laki yang sudah memenuhi syarat untuk menikah dan siap secara lahir dan batin, diharapkan segera untuk menikah. Namun dalam hal ini, hendaknya para laki-laki dapat memilih wanita terbaik yang akan ia jadikan istri dan juga ibu bagi anak-anaknya kelak.

Dalam Ihya’ Ulumiddin bab Adab Nikah, Imam Al Ghazali memberikan nasehat kepada laki-laki muslim agar tidak menikahi enam tipe wanita, yaitu : 
  1. Al Annanah,
  2. Al Mananah,
  3. Al Hananah,
  4. Al Haddaqah,
  5. Al Barraqah,
  6.  Asy Syaddaqah.
Siapa saja yang termasuk dalam 6 tipe wanita menurut Imam Ghazali?
Berikut ini penjelasannya :

1.      Al Annanah adalah wanita yang suka mengeluh dan mengadu.

Menikahi wanita tipe ini membuat suami sulit mencapai sakinah dalam keluarga. Sebab suka mengeluh tidak mendatangkan solusi apapun. Ia justru bisa menguras emosi suami. Sedangkan mengadu sering merusak hubungan baik dengan sesama, baik kerabat maupun sahabat. Apalagi jika yang suka diadukan istri adalah orang tua suami.

2.      Al Mananah adalah wanita yang suka mengungkit-ungkit kebaikan dan jasanya.

Menikahi wanita tipe ini membuat seorang laki-laki terhambat menjalankan perannya sebagai pemimpin keluarga. Jika ia berbeda pendapat dengan istrinya, sang istri mengungkit kebaikan dan jasanya. Apalagi jika secara ekonomi sang suami “lebih rendah” dari istrinya.

Selain itu, mengungkit kebaikan berbahaya bagi kehidupan akhirat keluarga. Setiap keluarga muslim pasti menginginkan bisa masuk surga bersama-sama. Namun, perilaku mengungkit kebaikan mengancam terhapusnya pahala kebaikan tersebut. Jika pahala-pahala kebaikan terhapus, lalu apa bekal untuk masuk surga?

3.      Al Hananah adalah wanita yang suka menceritakan dan membanggakan orang di masa lalu.

Jika ia janda, ia membangga-banggakan mantan suaminya. Jika ia belum pernah menikah sebelumnya, mungkin ia membangga-banggakan ayahnya dan membandingkan dengan suaminya. Atau mungkin membangga-banggakan saudaranya atau temannya di hadapan suami.

Lebih parah lagi, kalau ternyata ia pernah pacaran sebelum menikah dan membangga-banggakan pacarnya di hadapan suami.

4.      Al Haddaqah adalah wanita yang keinginan belanjanya besar, mudah tertarik suatu barang atau produk, dan suka meminta suami membelikan. Pendek kata, boros dan konsumtif.

Jika wanita-wanita tipe sebelumnya menguras emosi suami, wanita tipe ini menguras kantong suami. Meskipun suaminya orang yang kaya, boros tetap tidak baik dan tidak disukai agama.

Apalagi jika suaminya pas-pasan atau miskin. Betapa banyak suami yang akhirnya terperosok ke jalan haram gara-gara permintaan istri yang berlebihan.

5.      Al Barraqah

Imam Al Ghazali menjelaskan bahwa ada dua makna al Barraqah :

a.      Pertama, ia adalah tipe wanita yang suka berhias sepanjang hari. Meskipun demi tampil menawan di hadapan suami, berhias sepanjang hari termasuk sikap berlebihan.

Berlebihan dalam belanja kosmetik dan berlebihan dalam pemanfaatan waktu yang mengabaikan kewajiban-kewajiban lainnya. Apalagi jika niatnya bukan untuk suami.


b.      Kedua, wanita yang tidak mau makan dan suka mengurung diri sendirian.

Dengan kata lain, ia tipe penyedih. Bagaimana keluarga bisa sakinah mawaddah wa rahmah kalau sang istri suka berbuat demikian?

6.      Asy Syaddaqah adalah tipe wanita yang suka nyinyir dan banyak bicara.

Hampir setiap hal dikomentari dan komentarnya bukanlah komentar yang bermanfaat. Ada hal yang wajar saja dikomentari negatif apalagi jika ada kesalahan.

Menikahi wanita tipe ini, sulit bagi suami menemukan kedamaian karena semua sikapnya akan menjadi sasaran komentar nyinyir sang istri.

Itulah 6 tipe wanita yang sebaiknya tidak dijadikan istri atau pendamping hidup menurut Imam Ghazali. Semua itu demi kebaikan dan ketentraman rumah tangga dan keluarga kelak. Bukankah tujuan menikah adalah untuk ibadah? Oleh sebab itu, dalam memilih istri, sebaiknya yang dinilai pertama kali adalah akhlaknya. Semoga dengan begitu, akan terbina suatu rumah tangga sakinah, mawaddah, wa rahmah. Amiin Yaa Rabbal Alamiin.

Semoga Bermanfaat 
At Bentar Beach - Probolinggo

Senin, 21 November 2016

Ciri-ciri Anak Dhurhaka kepada kedua Orang Tua



Orang tua harus kita hormati dan kita sayangi seperti ajaran Rasulullah SAW, karena pintu neraka akan selalu terbuka kepada anak durhaka. Apa sajakah ciri anak durhaka kepada orang tuanya dalam Islam?
Seorang anak merupakan titipan Allah SWT kepada setiap orang tua, namun tidak sedikit diantara anak-anak itu yang durhaka kepada orang tua mereka dan dalam Islam ada beberapa ciri anak durhaka. Seorang anak yang durhaka kepada orang tuanya akan mendapat laknat serta kemurkaan dari Allah SWT.
Allah SWT memerintahkan dalam Al-Qur’an untuk berbakti kepada orang tua. Allah berfirman di dalam surat Al-Isra’ ayat 23-24.
 
Artinya : “Dan Rabb-mu telah memerintahkan kepada manusia janganlah ia beribadah melainkan hanya kepada-Nya dan hendaklah berbuat baik kepada kedua orang tua dengan sebaik-baiknya. Dan jika salah satu dari keduanya atau kedua-duanya telah berusia lanjut disisimu maka janganlah katakan kepada keduanya ‘ah/uf’ dan janganlah kamu membentak keduanya” (Q.S. Al-Isra’, 17:23)

 
Artinya :  Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: "Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil."  (Q.S. Al-Isra, 17:24)


Islam mengajarkan kepada setiap anak untuk senantiasa menghormati, menyayangi, dan patuh terhadap perintah orang tua selama perintah itu dalam kebaikan. Namun banyak sekali Kisah Anak Durhaka yang banyak diceritakan dalam sebuah legenda seperti cerita malin kundang yang tidak mengakui ibu kandungnya sendiri yang miskin dan lusuh dan saat ini banyak ditemui kasus-kasus seorang anak yang berani melawan kepada orang tua bahkan menelantarkan mereka saat usia telah tua renta. Sungguh menyedihkan bukan?


Sabda Rasulullah SAW seperti yang diriwayatkan oleh Tirmidzi :
   
Artinya : Termasuk Al Kaba`ir (Perbuatan Dosa besar), yakni bila seseorang mencela kedua orang tuanya. Mereka, para sahabat itu bertanya, Wahai Rasulullah SAW, mungkinkah seseorang mencela kedua orang tuanya? Nabi menjawab: Ya, bila dia mencaki bapak seseorang, maka orang itu pun akan mencaci bapaknya. Dan bila ia mencaci ibu seseorang, lalu orang itu pun akan mencaci ibunya. Abu Isa berkata, Ini adalah hadits hasan shahih. (HR. Tirmidzi No.1824)

Dalam Islam telah dijelaskan beberapa Ciri Ciri Anak Durhaka Kepada Orang Tuanya, antara lain sebagai berikut:

    1. Berkata “Ah”
Dalam Al-Qur’an surat Al-Isra’ ayat 23-24 diatas telah dijelaskan bahwa seorang anak yang durhaka kepada orang tuanya merupakan dosa yang sangat besar. Berkata “ah” kepada kedua orang tua dengan suara yang keras di hadapan mereka serta tidak memberikan nafkah kepada mereka jika dalam keadaan sangat membutuhkan maka merupakan suatu perbuatan yang amat dosa dan termasuk golongan anak durhaka terhadap orang tuanya.

    2. Tidak melayani kedua orang tua dengan baik
Salah satu ciri seorang anak yang durhaka adalah tidak melayani dan juga berpaling dari kedua orang tua. Terlebih jika sang anak berani menyuruh kedua orang tuanya untuk melayani dirinya dan membentak atau mengumpatnya di depan banyak orang.

    3. Menajamkan mata
Menajamkan mata ketika merasa kesal dan marah kepada orang tua merupakan salah satu ciri anak yang durhaka yang akan mendapat laknat dari Allah SWT.

    4. Membuat orang tua merasa sedih
Seorang anak yang melakukan suatu hal yang dapat membuat hati orang tua sedih merupakan suatu dosa yang amat besar dan merupakan ciri-ciri seorang yang durhaka.

    5. Tidak mengakui kedua orang tua
Malu mengakui orang tua dihadapan orang lain karena kondisi orang tua yang kampungan, miskin, tidak memiliki pangkat, memiliki pendidikan rendah, cacat, atau dengan alasan lainnya merupakan ciri-ciri anak durhaka dalam Islam dan akan mendapat dosa yang sangat besar. Apapun kondisi orang tua kita sudah seharusnya kita bangga karena mereka telah merawat dan membesarkan kita dengan ikhlas tanpa pamrih.

    6. Tidak menghormati orang tua
Seorang anak yang tidak mau menghormati orang tuanya atau tidak mau mencium tangannya maka merupakan dosa yang sangat besar dan termasuk dalam golongan anak yang durhaka.

    7. Mendahului orang tua
Mendahului orang tua dalam duduk dan juga berbicara tanpa seizin orang tuanya dalam suatu majelis yang juga dihadiri oleh orang tuanya merupakan suatu perbuatan yang sombong dan juga takabur. Seorang anak yang melakukan hal ini termasuk dalam golongan anak yang durhaka karena membuat orang tua merasa dilecehkan dan membuat mereka marah.

Dalam hadits Nabi telah banyak dijelaskan bagaimana hukuman bagi orang-orang yang durhaka kepada orang tua mereka dan Rasulullah SAW banyak menghimbau kepada seluruh umatnya agar tidak menjadi orang yang durhaka kepada orang tua karena pintu mereka akan terbuka bagi mereka.

Semoga Bermanfaat !!